Monday, January 20, 2014

Pakaian Layak Dipakai Namun Kantong Tetap Aman

Saya bukan orang yang sering belanja baju, bahkan setahun sekali pun tidak. Bagi saya, kebutuhan keluarga adalah yang pertama, lainnya tergantung rejeki dari Allah. Apalagi sekarang saya ibu rumah tangga yang jaga gawang di rumah, baju baru rasanya tidak terlalu perlu dibanding mereka yang kerja kantoran dan harus kelihatan good looking di depan pimpinan atau klien, atau dibanding anak-anak yang seringkali harus ganti baju karena keringatan atau kotor setelah puas bermain.

Saya itu paling susaaah cocok dengan pakaian. Ini tak cocok, itu tak cocok. Orangtua dulu suka bingung sama saya, ditawarin baju ini itu tidak mau. Makanya saya seringnya dibuatkan baju di tukang jahit, jarang beli di toko. Malah, sewaktu gadis sering bikin model baju sendiri, tapi tetep tukang jahit yang buatkan :D.

Lalu, bagaimana saya menyiasati agar baju-baju saya tetap layak pakai?

Pertama, memanfaatkan baju bekas.
What? Baju bekas? Tenang, biar saya jelaskan dulu. Ini memang sedikit memalukan tapi saya tidak selalu melakukannya. Saat pulang kampung, saya suka melihat lemari pakaian ibu penuh dengan baju-baju yang tak ia pakai lagi. Iseng-iseng saya tanya apakah baju itu masih dipakai? Saat ia jawab tidak, saya langsung tanya apa boleh salah satu baju itu buat saya. Tentu saja ibu saya membolehkan. Memang awalnya kebesaran karena ibu saya lebih gemuk. Tapi lama kelamaan baju ibu muat di badan saya karena saya menyusul ibu dalam hal berat badan : D

Kakak ipar saya beberapa tahun sekali suka mengeluarkan pakaian-pakaian lamanya, ia berikan pada ibunya (ibu mertua saya) untuk dibagikan ke tetangga dan saudara di kampung halaman. Tapi biasanya sebelum diberikan, ibu mertua suka memanggil menantu-menantu perempuannya barangkali ada yang mau ambil, karena pakaian tersebut masih sangat bagus kondisinya.


(Ini kerudung yang saya ambil dari timbunan pakaian bekas kakak)

Kedua, modifikasi ulang
Waktu gadis saya punya gamis hitam pemberian ibu saya. Lama-lama saya kurang suka memakainya. Entahlah, waktu itu pakai gamis serasa jadi ibu-ibu, tidak percaya diri memakainya ke kampus. Padahal sekarang sukanya pakai gamis karena praktis. Jadilah gamis itu penghuni lemari. Kebetulan, teman sekamar memiliki usaha bordir. Maka terpikirlah di benak saya untuk memotong sedikit gamis hitam saya, dibelah pinggir dan diberi bordir. Saya berikan gamis hitam saya pada sang teman dan jadilah baju kurung hitam dengan hiasan bordir bunga-bunga kuning di pinggirnya. Cukup manis.


Saya suka membongkar baju-baju lama saya barangkali ada yang masih muat. Ternyata satu dua masih ada yang bisa dipakai. Bahkan saya menemukan satu buah phasmina merah bata yang saya suka. Dulu, saya tak tahu cara memakainya. Sekarang, sekali klik di youtube bisa menemukan model hijab yang mudah dan syar'i.

Saya juga suka memadu padankan pakaian, bagaimana caranya supaya tidak bosan dan tetap nyaman. Misalnya rok jeans biru, atasannya hari ini kaus biru panjang, besok blus biru bermotif bunga, hari lainnya atasannya blus pink yang ada motif birunya.


Ketiga, jahit sendiri jika ada bagian pakaian yang rusak. Tentu kalau rusaknya tidak terlalu parah, sekedar bolong sedikit atau kancing lepas bisa ditangani sendiri. Agak rumit sedikit, atau ingin lebih rapi (terutama pakaian kerja suami dan pakaian sekolah anak) saya panggil tukang permak keliling yang setiap hari lewat di depan rumah.

Keempat, memanfaatkan potongan harga.
Jika belanja pakaian atau barang lain, potongan harga sangat menarik perhatian saya sebagai staf keuangan rumah. Apalagi jika kualitas pakaiannya baik. Tapi, kalau sedang tidak butuh, ya tidak beli juga.

Walau jarang beli pakaian, bukan berarti isi lemari pakaian tidak bertambah karena penghuni rumah bukan saya saja. Untuk mengatasi timbunan pakaian di rumah, yang saya lakukan:

Pertama, memberikan pakaian yang sudah tak terpakai. Tak terpakai bukan berarti pakaian itu sobek-sobek dan semacamnya. Memberi juga harus dengan pemberian yang bagus jika ingin dapat nilai bagus dari-Nya. Biasanya pakaian yang sudah kekecilan, model pakaiannya sudah terlalu bosan dan sebagainya. Biasanya saya berikan ke pemulung yang lewat di depan rumah. Baju-baju bayi bekas anak, saya berikan ke ART-nya kakak ipar yang lagi hamil.

Ow, jadi ingat sesuatu, diluar topik pembicaraan sih. Tapi masih ada hubungannya dengan pakaian. Beberapa bulan lalu saya dan para tetangga mendapati tumpukan pakaian bekas di dekat lapangan komplek perumahan kami. Usut punya usut, ternyata salah satu tetangga yang membuangnya. Empat karung pakaian bekas! Dibuang begitu saja di lapangan, menyajikan pemandangan yang tak indah dilihat. Yang lebih mengkhawatirkan, ia menyuruh tukang bersih-bersih untuk membuangnya ke sungai di belakang komplek. Haduh..kenapa tidak dikasihkan saja. Para pemulung yang tiap hari lewat depan rumah itu senang sekali kalau dikasih sesuatu. Mereka bisa bagi-bagi ke keluarga, tetangga dan saudaranya.

Kedua, pakaian yang benar-benar tak layak pakai, sobek disana sini, banyak noda, biasanya saya jadikan ...lap! Hehe lumayan kan tidak usah beli.

Nah, itu tips dari saya biar pakaian tetap layak pakai dan 'kantong' tetap aman. Silahkan jika pembaca mau menambahkan. Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan.


Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Irit tapi Bukan Pelit yang diadakan oleh Kakaakin





9 comments :

  1. Kalau saya, jika ingin membeli pakaian pertama sih kenyamanan dulu, habis itu harganya hehehe. Harganya gak mahal tapi nyaman dipakainya hehe

    ReplyDelete
  2. Wah... jadi ingat tumpukan baju di lemari nih. Padahal gak kepake juga...

    Terima kasih sudah ikutan GA Irit tapi bukan pelit. Sudah tercatat sebagai peserta :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih juga jadi ada kesempatan menulis:)

      Delete
  3. Terima kasih sudah berbagi di giveaway irit tapi bukan pelit :)

    Salam,
    @apikecil

    ReplyDelete
  4. sama mak, aku juga jarang beli baju.. bajuku dilemari paling hanya 2 lusinan, ini pun udah termasuk baju rumah dan baju tidur :) kalau ada uang mending buat beli baju anak :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul..kalo anak basah dikit ganti, kotor diki ganti, jai harus ada stok terus..makasih udah mampir mak

      Delete
  5. bermanfaat sekali artikelnya. kunjungi juga www.greenmommyshop.com menyediakan kosmetik alami tanpa bahan kimia.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...