Wednesday, April 23, 2014

Minum Kopi di Negeri 1000 Warung Kopi

Apakah anda penyuka kopi? Saya penyuka kopi, walau cuma secangkir kopi sehari. Jika kamu juga penyuka kopi, maka kamu perlu tahu dan berkesempatan berkunjung ke Negeri 1000 Warung Kopi serta mencoba kopi di sana. Lalu dimanakah letaknya negeri itu?

Negeri 1000 Warung Kopi adalah julukan untuk Aceh karena banyaknya warung kopi disana yang bertebaran di kota Banda Aceh dan kota lainnya seperti Lhokseumawe dan Takengon. Kopi aceh sangat spesial rasanya karena kamu tidak akan menemukan kopi senikmat kopi aceh di daerah manapun di Indonesia. Teknik membuat secangkir kopi di kedai kopi di Aceh tidak ada duanya. Kopi diseduh melalui beberapa penyaringan sampai pada kekentalan yang diinginkan sehingga membuat kopi lebih harum, nikmat dan memiliki efek rasa yang kuat. Aceh juga memberikan kontribusi sebesar 40% terhadap produksi kopi Indonesia loh!

(Ilustrasi dari sini)

Sejarah warung kopi di Aceh

Ketika kesultanan Aceh berkembang, mereka kerap kali berkomunikasi dengan Kesultanan Ottoman yang sekarang telah menjadi Negara Turki. Komunikasi itu sangat intensif sehingga banyak hal selain teknik perang dari Turki berpengaruh pada kehidupan warga Kesultanan Aceh termasuk dalam hal gaya hidup minum kopi dan kehadiran warung kopi.

Di Turki, orang-orang mendatangi warung kopi setelah sholat untuk mengobrol, persis seperti di Aceh. Di Aceh masih ditemukan warunh kopi dengan meja pendek yang tingginya hampir sama dengan dudukan kursi. Sebuah foto warung kopi di Istambul pada abad 19 juga memperlihatkan hal yang sama. Pembuatan kopi dilakukan dengan cara kopi langsung dimasak dengan air kemudian disaring. Ini juga sama dengan penyajian kopi ala Turki. Kopi diminum oleh orang sufi sebelum mereka memulai ritual. Pada saat yang sama, paham sufisme sangat kuat di Aceh ditandai dengan hadirnya tokoh sufi seperti Hamzah Fanzuri dan Syamsudin Al Sumatrani.

(Ilustrasi dari sini)

Selain pengaruh Kesultanan Ottoman, ternyata pengaruh Tionghoa -yang hadir di Aceh beberapa abad lalu- juga terdapat dalam makanan yang tersedia di warung kopi yang tidak ada di warung kopi di Ottoman. Orang Tionghoa punya kebiasaan duduk dan mengobrol di warung kopi. Beberapa warung kopi lama juga juga dikelola oleh orang Tionghoa.

Wah, menarik ya ternyata ada pengaruh Turki dan Tionghoa atas keberadaan warung kopi di Aceh.

Warung kopi di Aceh

Duduk, mengobrol dan minum kopi di warung kopi biasanya dilakukan oleh laki-laki. Dengan semakin berkembangnya warung kopi -dari mulai yang tradisional, kemudian dikembangkan dengan waralaba, sampai yang memberi fasilitas selain makanan dan minuman tapi juga musik, TV satelit dan akses internet-, anggota keluarga lain pun bisa menikmati makanan dan minuman di warung kopi. Meski namanya warung kopi, ada juga menu teh, jus, kue-kue, nasi gurih/nasi lemak, mi goreng dan sebagainya.

Ada 3 menu kopi yang biasa ditawarkan di warung kopi di Aceh:
- Kopi hitam, adalah kopi tanpa campuran hanya ditambah dengan gula. Kopi ini paling sering dipesan oleh tamu laki-laki.
- Kopi Sanger, kopi ditambah susu sedikit dan gula.
- Kopi susu, kopinya lebih sedikit, ditambah susu dan tanpa gula.

Di Aceh Selatan, ada kopi tubruk yang tidak disaring seperti umumnya kopi Aceh. Uniknya minum kopi tubruk dilakukan dengan gelas terbalik.

Berikut beberapa warung kopi di Aceh yang banyak dikunjungi masyarakat Aceh atau dari kota lain bahkan luar negeri:

- Dhapu Kupi di Simpang Surabaya, Banda Aceh tidak jauh dari Mesjid Baiturrahman dan Bandara Iskandar Muda. Pemandangan kota Banda Aceh yang semakin rapih dan cantik dari lantai atasnya sungguh spektakuler.
(Ilustrasi dari sini)

- Warkop Solong di Ulee Kareng, Lampenurut, dan di beberapa tempat lainnya di Banda Aceh karena cabangnya yang semakin menyebar. Warung Kopi ini memiliki konsumen yang menyukai kopi yang sedikit lebih kuat aromanya dari kopi biasa.
(Ilustrasi dari sini)

- Ring Road Coffee di stasiun bus Banda Aceh yang paling meriah dari semua yang ada karena di sini para pemuda sering duduk minum kopi sambil melihat pertandingan sepak bola.
(Ilustrasi dari sini)

- Tower Kopi di depan Taman Sari Banda Aceh dan hanya 100 meter dari Masjid Baiturrahman adalah tempat berkumpulnya masyarakat kota untuk duduk di luar ruang dan menghadap meja dengan kehangatan kopi kuat Aceh yang harum.
(Ilistrasi dari sini)

- Coffee Bay yang terletak di Ule Lheue kea rah pelabuhan sangat populer bagi para pelancong yang menginginkan rasa kopi Aceh sebelum menyebrang ke Pulau Weh
(Ilistrasi dari sini)

- Syair Cafe, didesain dengan model rumah Bali dengan kursi dan ruangan yang tidak memenuhi ruangan sehingga pengunjung leluasa duduk dan mengobrol.
(Ilustrasi dari sini)

- Petuah Thoe, menyediakan kopi luwak yang terjangkau, akses internet, ruangan khusus untuk karaoke dan live music setiap malam kamis dan Minggu.
(Ilustrasi dari sini)

- Five Corner, didesain minimalis dan didominasi warns ungu, terletak di samping traffic light Simpang Lima Banda Aceh.
(Ilustrasi dari sini)

- Yellow, menyediakan kopi kamis, single espresso dan ice blended mocca, tempat shalat nya bersih dan luas.
(Ilustrasi dari sini)

- Rumoh Aceh. Warung kopi dengan konsep rumah adat Aceh ini memang sangat unik. Rumah panggung yang disulap menjadi warung kopi dan terbagi menjadi dua bagian, bagian bawah dan bagian atas rumah. Kopi andalannya adalah kopi luwak.
(Ilustrasi dari sini)

Dan masih banyak lagi warung kopi lainnya.

Bagaimana? Berminat minum kopi di Negeri 1000 Warung Kopi? Yuk berkunjung ke Aceh. Satu yang harus diperhatikan saat berkunjung ke warung kopi di Aceh, apabila adzan sudah berkumandang, warung kopi, dan semua toko di Aceh, pasti akan menutup pintunya. Di warung kopi, biasanya akan menyisakan sedikit pintu terbuka tapi tidak melayani pesanan jika masih ada tamu. Yang masih duduk-duduk di luar akan masuk ke dalam, atau segera membayar kopi dan pergi, biasanya untuk melaksanakan solat. Ini biasanya berlangsung sekitar setengah jam.

Tulisan dibuat untuk Banda Aceh Blog Competition

Sumber referensi: indonesia.travel, pasukanottoman.wordpress.com, acehtourismagency.blogspot.com, travel.detik.com

19 comments :

  1. Sepertinya asik minum kopi di sana ya :). Belum pernah ke Aceh, pingin juga kapan2 ke sana.

    sukses lombanya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba..tapi jauh nih nunggu keajaiban bisa pergi ke Aceh. Makasih udah mampir:)

      Delete
  2. samiku pencinta kopi mak, pasti senang ya kalo berkunjung ke negeri 1000 warung kopi ini, moga suatu saat bisa ksana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiin..saya juga. Kapan ya??? *thinking

      Delete
  3. Wah, banyak bener ternyta warung kopinya....

    ReplyDelete
  4. Kreatif juga, ada Kopis Kamis. :D
    Saya belum doyan kopi. Sukses lombanya ya, mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mak..ini saya juga udah mengurangi kopi:)

      Delete
  5. Suamiku pasti seneng nih kalau ke aceh

    ReplyDelete
  6. wih banyak juga ya. makin pengen jalan ke banda lagi...
    mampir balik ya http://mhdharis.wordpress.com/2014/04/27/banda-aceh-punya-situs-objek-wisata-tsunami-yang-wajib-dikunjungi/

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya..smoga diberikan kesempatan datang kesana yaa

      Delete
  7. Tulisan yang menarik. Info tentang Wisata Aceh disini juga ada : http://acehplanet.com/

    ReplyDelete
  8. Yang salut itu, saat waktu shalat semua toko pada tutup. Mudah-mudahan kota lain menyusul seperti ini. Jadi semakin banyak orang yang shalat di awal waktu :)

    ReplyDelete
  9. Wahhhhh warkop solong masih ada yaaa? aku sempet 2 thn tinggal di banda aceh dan 18 thn di lhokseumawe :D Kopi aceh lumayan lah... walopun aku kalo minum di sana cuma sekedar ikut2 temen aja :D..Suka bgt kopi sih engga mba...tp sesekali oke :)

    ReplyDelete
  10. Ga perlu jauh-jauh kesana untuk minum kopi. Saya sendiri sudah sangat menikmati kopi penambah stamina KGC di Bandung. Korean Ginseng Coffee (Kopi Ginseng Tara) adalah kopi instan/siap seduh yang mengandung ekstrak Ginseng Merah asli Korea, gula, dan krimer sehingga selain rasanya enak, manfaatnya juga dapat dirasakan.

    ReplyDelete
  11. Wah sepertinya Lampung kalah duluan yaw mbak? Kalau kata Kang Didik Kempot, Kopi Lampung niku kopi asli. Ew lakok malah Aceh yang mendapat julukan negeri 1000 warung kopi. Nampaknya dah kedahuluan Aceh nieh Lampung,,,, hehehehe

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...