Monday, November 17, 2014

Diam Tak Selamanya Emas

Ia menyodorkan sebuah kartu. "Nanti ya." Jawab saya. Dua hari kemudian, ia kembali lagi menagih. Saya jawab dengan kalimat sama. Sejak itu, setiap saya lewat di tempat ia dan kawan-kawannya suka nongkrong, saya seringkali mendengar gumaman. Kadang jelas, kadang tidak. Tapi, kenapa hati ini seperti menangkap kata-kata sindiran? 

 Ah, semoga saja saya salah. Semoga saja saya salah. Berkali-kali saya berbisik dalam hati, berusaha menyingkirkan luka yang hanya membuat cape hati saja jika dipelihara. Lagipula, kenapa waktu itu saya tidak terus terang? Bahwa saya memang tidak memegang uang sebanyak itu saat itu. Bahwa sang suami sedang dinas seminggu dan kesulitan mengirimkan sejumlah dana. Rrgggh, ini memang satu kekurangan saya yang cukup menyulitkan. Saya susah sekali menyampaikan maksud saya pada orang lajn secara lisan, bahkan kadang pada suami sendiri! 

Saya pun hanya bisa beristighfar, berzikir pada-Nya untuk menenangkan hati yang bergemuruh. Semoga mereka tak seperti yang saya sangka dan ada jalan untuk meluruskan salah paham. 

 *** 

Sumber gambar dari sini

Diam, katanya adalah emas. Namun bagi saya, diam tak selamanya emas. Ada hak keluarga agar kita bicara, menyelesaikan satu permasalahan atau saling mencurahkan rasa. Ada hak tetangga agar kita saling berkirim kabar, kabar yang bisa dibagi tentunya. Diam, seharusnya kita lakukan saat kita tak mampu berkata yang baik. Sebagaimana Rasulullah SAW telah bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Dari status facebook Mbak Mugniar tanggal 13 November lalu, saya jadi tahu bahwa dalam istilah psikologi, kesulitan mengungkapkan perasaan pada orang lain disebut Aleksitimia. Menurut Drs Isywara Mahendratto dalam sebuah tulisan di blog miliknya, ciri ciri  aleksitimia mencakup kesulitan melukiskan perasaan sendiri atau perasaan orang lain dan perbendaharaan kata emosional penderitanya amat terbatas. Penderita aleskitimia jarang menangis. Kalaupun menangis, air matanya mengucur deras. Namun mereka akan kelabakan bila ditanya apa sebabnya mereka menangis. Penderita aleksitimia bukannya tidak pernah merasa, melainkan tidak mampu mengetahui dan terutama tidak sanggup merumuskannya kedalam kata kata dengan tepat apa yang mereka rasakan. Kekacauan seperti itu seringkali membuat mereka mengeluhkan masalah kesehatan yang tidak jelas padahal sebenarnya mereka sedang mengalami tekanan emosional. Dalam ilmu psikiatri dikenal sebagai somatisasi, yaitu keliru menafsirkan sakit emosional sebagai sakit fisik.

Lalu saya jadi berfikir, apakah saya menderita aleksitimia? Entahlah, sepertinya harus diteliti lebih lanjut oleh yang lebih  ahli. Saya pun tak perlu mengira-ngira. Selama ini, jika saya sulit mengungkapkan perasaan dalam bentuk lisan, saya akan menuliskannya, di blog, di note handphone, dan semacamnya. Lumayan juga sih meringankan perasaan. Namun, untuk masalah seperti di atas tentu saja perlu tabayyun (mencari kejelasan masalah) karena berhubungan dengan orang lain.

Sumber referensi: 

10 comments :

  1. kalau saya terbalik, Mbak Kania. Sya dulunya terbiasa berterus terang dengan apa yang saya rasakan. namun sejak menikah, saya terbentur oleh situasiyang memaksa saya akhirnya lebih banyak diam, karena percuma juga tabayyun. ini ternyata juga jadi dilema bagi saya. akhirnya kena deh itu somatisasi, kambuh maagnya dan sakit kepala sangat. makasih sudah berbagi ilmu baru :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 mba. Mudah2aan selalu sehat walafiat. Susah juga ya kalau orang tak mau menerima tabayyun kita.

      Delete
  2. Penderita aleksitimia bukannya tidak pernah merasa, melainkan tidak mampu mengetahui dan terutama tidak sanggup merumuskannya kedalam kata kata dengan tepat apa yang mereka rasakan.

    Oooh baru tahu dari tulisan ini kalau ternyata itu masalah utamanya ya Mbak.Bukan sekadar tak mampu. Tapi juga bermasalah dalam mengidentifikasinya.

    Kalau saya bisa mengidentifikasi lagi marah atau sedih terus karena apa. Tapi susah mengungkapkannya saja (dulu). Tapi semenjak ngeblog jadi lebih bisa keluar dan rasanya jadi "lebih" sehat. kalau tidak mungkin gampang kena bipolar disorder atau bentulk sakit jiwa lainnya.

    Mungkin Mbak Kania bisa mengidentifikasi hanya sulit di mengatakannya ya? Kalau begitu berarti bukan aleksitimia .. hanya sulit mengungkapkan saja Mbak. Alhamdulillah bisa menulis dan semoga bisa lebih lega :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya mak..kalu mengungkapkannya bisa lewat tulisan. Tapi kadang2 perlu dipikirkan dulu sebenarnya apa yg terjadi. nah itu dia mak, saya suka berfikir, apa bipolar ya, takut banget deh..insyaallah semoga nggak..

      Delete
  3. Sulit memang ya mak kalau susah mengutarakan apa yang dirasakan, pasti menjadi beban di hati. Dulu sekali wkt remaja mgkn sy spt itu, tp bertambahnya usia dan bertambahnya teman membuat sy bs lepas mengungkapkan isi hati, walaupun msh selalu bimbang, tp dg selalu mendekatkan kpd Allah dan meminta petunjuk-Nya, insyaallah semua menjadi baik-baik sj.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mak..memang sebaik -baik pelarian pada Allah SWT

      Delete
  4. Menarik mak, saya malah baru tau Aleksitimia itu apa disini. setiap orang punya karakternya dan masalah masing2 ya mak, kalo saya malah gak bisa diem, saya selalu ingin mengungkapkan perasaan saya apa yg saya rasakan ke orang-orang. saya gak bisa menahan untuk mengatakan pandangan saya terhadap orang lain, terhadapa suatu kondisi. Pokoknya bawaannya pengen ngomong, komentar, protes, marah, sebel atau apalah (tergantung kondisi).

    Tak jarang lisan saya ini menyakiti hati orang lain saking tajamnya (astaghfirullah). Tapi itulah saya, karakter saya yang extrovert, selalu mengutarakan perasaannya, kalau suka saya bilang suka, gak suka saya juga bilang gak suka.

    pengennya sih berubah, paling tidak menahan diri untuk tak dominan bicara, tidak terlalu vokal dan frontal, karena beberapa kali saya kena batunya karena sikap yang frontal. terbawa emosi yang hampir tak terkendali. Habis itu nyesel.

    sekarang malah nyoba jadi lebih kalem, kalau gak suka, saya coba diam saja gak mau bicara pada orang tersebut atau menghindar, tapi lama2 koq malah timbul sakit karena tak mengucapkan ketidaksukaan saya. Ah... tidak enak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tiap orang punya karakter beda2 ya mba..tetaplah jadi.diri mba yang unik:)

      Delete
  5. Mbak klo aku ada sesuatu yang aku ga suka pasti aku bilang. tapi sekarang semenjak ada seosmed jadi bisa ngeluh tanpa orang kita maksud tersakiti, apalagi pas ikutan stand up, kegelisahan bisa jadi bahan buat stand up

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...