Monday, April 6, 2015

Diary Sakit Gigi

Daripada sakit hati 
Lebih baik sakit gigi ini 
Biar tak mengapa 
(Lirik lagu Maggy Z)

Setujukah kamu dengan lirik lagu di atas? Kalau saya tidak. Saya tidak mau dua-duanya. Sakit hati membuat pikiran tak tentu arah dan hati menjadi gelisah. Begitu juga sakit gigi, membuat pikiran tak fokus dan cepat marah. 

Pertengahan Maret, 

Saya diserang sakit gigi (lagi) untuk ke sekian kalinya. Rasanya, tentu saja sakit. Mata tak bisa terpejam saat malam karena rasa sakit yang terus menyerang. Tawa anak-anak yang biasanya jadi penghibur hati, terasa memekakan telinga. Ingin teriak, marah, kenapa rasa sakit ini datang? Beberapa hari tidak bisa tidur nyenyak karena sakitnya sakiiiit banget. Berbagai cara sudah saya tempuh agar sakit gigi mereda, antara lain:

  • Berkumur dengan air hangat yang diberi garam. Biasanya setelah beberapa kali berkumur, sakitnya hilang. Tapi kali ini tidak. 
  • Menempelkan bawang putih yang sudah ditumbuk di gigi yang sakit. Hasilnya? Tetap sakit. 
  • Berkumur dengan air hangat rebusan sereh. Rasa sakit di gigi belum juga hilang.
  • Berkumur dengan air teh hangat. Gigi masih saja sakit. 
Cara herbal tak mempan, saya pun beralih ke obat apotik: 
  • Minum p*ns*an, tak mempan. Rasa sakit di gigi masih ada. 
  • Minum pa*ado* biru, alhamdulillah..rasa sakit sempat menghilang, sempat bisa tidur malam 2-3 jam lalu sakit datang lagi. 

Jumat, 20 Maret 2015 

Setelah kurang lebih seminggu bergelut dengan sakit gigi, saya pun pasrah. Ini mah harus segera ke dokter. Akhirnya saya berangkat ke sebuah rumah sakit swasta rujukan kantor suami. Ditemani dua anak saya, kami naik taksi sore-sore. Seru pokoknya. Mereka berdua tak bisa duduk manis di dalam taksi. Nanya ini itu, pencet sana pencet sini, sampai yang satu ngantuk dan yang lainnya tidur. 

Sampai di rumah sakit, saya mendaftarkan diri di poli gigi dan masih menunggu dipanggil. Saya belikan camilan untuk dua anak saya agar mereka tidak bosan menunggu. Saat akhirnya dipanggil, saya cuma diperiksa sebentar, di rontgen, dan diberi obat. Dua anak saya bersikeras melihat saya di periksa di ruangan dokter. Untung mereka nurut saat disuruh duduk di kursi sama suster. 

Fiuh, untung juga sih tak terlalu lama di rumah sakit. Kami bisa pulang ke rumah saat masih terang. Lagipula, kalau gigi sedang sakit tak boleh dicabut. Ternyata, dari hasil rontgen, terlihat bahwa gigi belakang sebelah kanan sudah mengalami radang. Oalah, pantas sakit sekali. Yang lebih parah, saya baru ingat dulu pernah diperiksa di sini dengan sakit gigi yang sama. Saya seharusnya sudah mencabutnya dulu tapi saya tak kembali karena merasa sudah sehat! Nakal! 

Hasil rontgen gigi. Udah lebih dari satu gigi dicabut, berasa mbah-mbah..:p

Sabtu, 21 Maret 2015 

Saya menghadiri seminar "Balitaku Khatam Qur'an" dengan sakit gigi yang timbul tenggelam. Mau tak datang, sudah janji dengan teman untuk yang nitip dibelikan buku "Alhamdulillah Balitaku Khatam Alquran". Bismillah, akhirnya berangkat. Namun, saya tidak mengikuti acara tersebut sampai selesai. Selasa, 

Selasa, 24 Maret 2015 

Jam 4 sore saya sudah mendandani anak-anak. Rencananya mereka mau dititipkan ke rumah kakak. Eh...tak taunya si bungsu mengantuk dan tertidur. Aduh! Bisa-bisa batal rencana saya ke rumah sakit untuk mencabut gigi. Mau dibangunkan dan digendong menuju rumah kakak, kasian. Dalam keadaan ngantuk berat, biasanya ia tak mau ditinggal. Jadilah saya kirim pesan melalui Whatsapp ke suami, memintanya pulang cepat. Sebenarnya nggak enak, barangkali dia masih kerja. Tapi...mau bagaimana lagi. Kalau ditunda, saya khawatir sakit gigi malah datang lagi dan harus menunggu lagi sampai sakit reda agar bisa mencabut gigi. Untungnya, suami mengiyakan. 

Semesta sedang tidak mendukung, kok kereta yang ditumpangi suami malah berhenti di tengah jalan. Seharusnya jam 5 sore suami sudah ada di rumah. Tapi ia baru sampai jam 6 sore. Saya pun langsung memesan taksi untuk ke rumah sakit. Eh...rupanya pak supir taksi yang saya pesan tak tahu jalan menuju rumah saya. Dia menelepon untuk bertanya arah. Aduh lagi! Bisa-bisa saya telat dari jadwal yang ditentukan. Saya kesal dan berpikir negatif. 

Suami sempat menyarankan agar mengundurkan jadwal cabut gigi. Karena di jalan pasti macet dengan orang-orang yang baru pulang kerja. Saya pasti akan terlambat datang. Tapi saya bersikeras. Akhirnya saat taksi datang, saya segera meluncur ke rumah sakit. 

Di dalam taksi saya terus curhat sama Allah SWT agar perjalanan lancar. Paaaas banget, jam 7 tepat saya tiba di rumah sakit. Ya Allah, terimakasiiiiih sekali. Ternyata perjalanan sangat lancar. Ternyata pak supir yang saya sempat kesal sama dia, baik dan sopan. 

Saya pun langsung mendaftarkan diri ke poli gigi. Ternyata saya tidak terlambat karena masih ada pasien di dalam. Setengah jam menunggu, saya pun dipanggil. Sang dokter bertanya, "Mau dicabut sekarang?" Duuh bu dokter, iya dong bu. Kan saya udah bilang sama suster, kata saya dalam hati. Tapi emang tak bisa disalahkan karena dokternya berbeda orang dengan yang hari Jumat. "Sebentar ya bu, tunggu konfirmasi dari asuransi dulu." Kata bu dokter. Saya pun menunggu. Beberapa menit berlalu, saya termangu di depan peralatan dokter gigi.

"Aduh gimana ya, belum ada jawaban juga, kita bius aja dulu ya sambil menunggu". Kata ibu dokter. Saya pasrah, lalu juuuus...saya pun disuntik. Tak lama kemudian,  gusi saya terasa kebas dan membesar tanda obat bius sedang bereaksi. Saya menunggu lagi. 

Sumber: http://berbinarbinar.com/tips-kesehatan/tips-kesehatan-gigi-mulut/sakit-gigi-dan-jalan-keluarnya.html


"Kok belum ada jawaban ya, padahal sudah dibius. Kasihan ibu, apa dicabut sekarang saja ya.." Ibu dokter berkata lagi. Lagi-lagi saya pasrah. Bagaimana dong dok, sudah dibius begini. Akhirnya...jreng..jreng..mulailah ritual 'menyenangkan' ini. Berbagai alat dokter gigi bergantian masuk kedalam mulut saya. Saya menutup mata -karena alat penutup mata tidak ada di ruangan dokter, entah ada dimana- dan mengepalkan tangan, menahan rasa ngilu di dalam mulut. Suara mesin yang berdengung rasanya memenuhi isi kepala. Hati berbisik terus menerus, "Ayo dong selesaikan proses ini..."

Proses terakhir cabut gigi ini adalah penjahitan. Ketika akhirnya selesai, saya pun merasa lega. segumpal kapas diletakkan di atas gigi yang dicabut. Tak banyak bicara, saya mengikuti petugas ke meja administrasi. Lamaa saya menunggu karena ternyata proses penjaminan administrasi belum selesai juga. Saya mulai resah karena waktu menunjukkan jam 9 malam. Rasanya, ingin segera tiba di rumah dan rebahan di atas kasur. Dan...agak sedikit parno juga pulang malam-malam sendiri. 

Menit demi menit berlalu, belum ada jawaban dari pihak asuransi.  Pihak rumah sakit meminta saya untuk membayar dengan uang sendiri dulu sebesar sekian juta. Haa..saya melongo. karena yakin akan dicover saya tak bawa uang sebesar itu. Asuransi oh asuransiiii. Saya akhirnya dibolehkan pulang jam 10 malam kurang. Petugas administrasi rupanya merasa kasihan juga sama saya yang mondar mandir dengan mulut bengkak. Hanya saja, KTP dan kartu asuransi saya ditahan untuk mengurus penjaminan asuransi yang belum selesai juga.

Selasa, 31 Maret 2015

Seharusnya hari itu saya harus kontrol lagi ke dokter gigi untuk mencabut jahitan. Tapi tahu tidak saudara-saudara,, urusan tentang asuransi ini ternyata belum selesai!!! Pihak rumah sakit pun meminta tolong agar saya dan suami membantu menghubungi pihak asuransi. 

Jumat, 3 April 2015

Petugas rumah sakit akhirnya berhasil menghubungi pihak asuransi melalui whatsap setelah di email dan ditelepon berkali-kali tak ada balasan. Saya tak tahu apa yang terjadi, apa yang salah, tapi tentu saja pasti ada sedikit ketegangan saat pihak rumah sakit dan asuransi akhirnya bisa berbicara.

Sabtu, 4 April 2015

Akhirnya saya bisa kontrol ke dokter gigi untuk mencabut jahitan. Hhh, ternyata sama seperti sebelumnya. Asuransinya belum ada jawaban. Sedetik sebelum dilepas jahitan, sang ibu dokter sempat ngedumel tentang proses asuransi ini, "Gimana sih..bla bla bla...kita kan mau nolong pasien, kok kita yang dimarahin...bla bla..."

Akhirnya ya sudah deh, kali ini saya pilih untuk bayar dengan uang sendiri dulu, baru nanti diklaim ke perusahaan suami. Untung saya sudah sedia uang untuk berjaga-jaga mengingat pengalaman sebelumnya dengan asuransi.

Inilah diary sakit gigi saya. Saya berasa diingatkan, mentang-mentang punya asuransi kesehatan jadi tidak menjaga kesehatan. Sakit gigi itu benar-benar tidak enak. Tidak bisa makan enak, tidak bisa tidur nyenyak, tidak bisa ibadah khusyuk, tidak bisa kerja maksimal, menyusahkan orang. 

Dulu saya selalu merasa saya ini kuat menahan rasa sakit apapun. Ternyata kali ini tidak, dan saking sakitnya saya merasa begitu dekat dengan maut. Ah lebay ya..ini lagi-lagi pengingat dari-Nya agar saya tidak boleh sombong dan selalu menjaga kesehatan. 

Jadi masih mau milih sakit gigi daripada sakit hati? Saya tidak mau dua-duanya.

17 comments :

  1. Deuh seru ceritanya Mak....sampai sekian juta toh...? Mahal banget ya...Semoga kita semua diberi kesehatan ya Mak...^_^i

    ReplyDelete
  2. Hehehe dua2nya emang tidak enak dan sy sudah pernah merasakannya...tapi untuk urusan sakit gigi saya juga paling takut untuk cabut gigi hehehe

    ReplyDelete
  3. Saya orang yang sering sakit gigi, emang keliatannya sepele, tapi sakitnya itu, jadi inget pernah juga bikin postingan sakit gigi disini http://www.umimarfa.web.id/2014/10/masih-tentang-sakit-gigi.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya keliatannya sepele...cuma sakit gigi..padahhal...

      Delete
  4. Untuk sakit gigi saya memang tak pernah mengalaminya, tapi semoga tidak akan pernah mengalaminya. Amin..

    Untuk sakit hati, pernah sih.. Tapi kata orang yang pernah sakit gigi, sakit hati gak ada sakitnya, jauh lebih sakit gigi.

    Kok mbulet ya? Hehehe
    Semoga difahami maksud dan tujuan saya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo akit hati..kita curhat ke orang biasanya berkurang...kalo sakit gigi dicurhatin...tetep sakit kayanya :D

      Delete
  5. Mahal ya cabut gigi aja...ato operasi graham bungsu? Klo angkat graham bungsu saya pernah juga mbak....alhamdulillah pake askes lancar. Btw, sakit gigi mmg ruarr biasa....sama sakit abis sc...sakitan pas giginya error

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba..graham bungsu..saya tak tau ternyata kalo cabut geraham bungsu memang mahal

      Delete
  6. gigi ini memang jadi problematika tersendiri.
    kemarin saya baru aja masang behel. dan sakitnya itu....

    ReplyDelete
  7. Sakit hati atau sakit gigi sama-sama gak enaknya :D
    Alhamdulillah sih Mak, belum pernah punya kasus gii yang serius :))

    ReplyDelete
  8. saya juga gak mau dua duanya mak. terakhir merasa sakit gigi waktu SMA dulu. Alhamdulillah gak pernah lagi. Jangan sampai ya Allah. Ngebayangin nyut nyut nya aja udah lemes :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. terakhir SMA mak? berarti termasuk sehat dong...alhamdulillah, jangan sampai...

      Delete
  9. Sakit gigi memang tidak enak, rasanya pengen di cabut semua nih gigi.. hehe..

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...