Wednesday, June 1, 2016

Pelatihan memandikan Jenazah

"Alangkah baiknya, ketika orang yang kita cintai tiada, kita sendirilah yang mengurusnya..."

Begitu kira-kira kata yang saya ingat dari seseorang di pengajian bertahun-tahun lalu. Beliau adalah orang yang sudah biasa mengurus jenazah. Beliau sering bercerita tentang pengalamannya mengurus jenazah baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Dan ceritanya itu bukan untuk mengumbar aib orang yang sudah meninggal karena beliau tidak menyebutkan nama, tetapi agar kami semua mengambil hikmahnya dan mengingat kematian agar kehidupan diisi dengan kebaikan.

Kata-kata itu menetap di dalam pikiran saya dan saya menyimpan keinginan untuk belajar bagaimana mengurus jenazah, seperti memandikan atau menshalatkan. Mungkin kita bisa baca sendiri di rumah lewat buku-buku keagamaan yang dimiliki. Namun, praktek langsung dengan ahlinya tentu lebih baik.

Beberapa waktu lalu pada pertengahan Mei 2016 di mesjid komplek saya ada pelatihan mememandikan jenazah. Wah, ini kesempatan baik sekali. Seperti pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya pun menghadirinya dengan harapan mendapat pengetahuan baru yang nanti akan bermanfaat.

sumber

Bertempat di Mesjid Almuhajirin, Villa Bintaro regency, Pondok Aren, Tangerang Selatan, pelatihan dipandu oleh Ustadzah Robiah yang memang sudah terbiasa mengurus jenazah. Beliau sudah biasa dipanggil oleh orang-orang yang membutuhkan jasanya kapanpun, bahkan jika tengah malam sekalipun. Beliau mengingatkan saya pada teman pengajian dulu yang sudah biasa mengurus jenazah. Tulus, ikhlas, tidak mengumbar aib orang meninggal, mau segera datang jika dibutuhkan, itulah ciri khas orang-orang pengurus jenazah seperti beliau-beliau ini. 

Menurut ustadzah Robiah, tanda-tanda datangnya kematian itu begitu dekat dengan kita. Pertama, datangnya berbagai 'utusan' ke kehidupan kita, yaitu uban, penglihatan  dan pendengaran yang berkurang, tenaga bertambah lemah, dan ingatan yang berkurang. Kedua, Adanya malaikat maut yang mengelilingi. Kita tentu tidak bisa melihatnya karena malaikat adalah makhluk gaib. Yang bisa merasakan datangnya malaikat maut mungkin hanya orang yang bersangkutan saja.

Ketika seseorang sedang sakaratul maut, bacakanlah dan bimbinglah ia untuk menyebut nama-nama Allah SWT di telinganya. Karena setan selalu mencari kesempatan kapanpun, bahkan ketika seseorang akan meninggal dunia.  

Menurut ustadzah Robiah, kebanyakan anggota keluarga tidak tahu bagaimana menghadapi orang yang meninggal. Ada yang malah menelepon keluarga lain atau mengabarkan lewat media sosial ketika seseorang baru saja meninggal. Seharusnya, segeralah urus jenazah tersebut, jangan mengobrol, bacalah Alquran Surat Alfatihah, shalawat, dan tahlil. Tentu hal tersebut lebih dibutuhkan orang meninggal dibanding lainnya.

sumber

Untuk orang yang mengurus jenazah dan bukan anggota keluarga, sebaiknya menutup aib orang yang meninggal dan bicarakan hanya kebaikannya. Ustadzah Robiah pun memulai praktek memandikan jenazah dengan model salah seorang jemaah majelis ta'lim. Untuk detail tahapannya, alangkah baiknya teman-teman mengikuti pelatihan yang sama yang diadakan mesjid atau kelompok pengajian yang teman-teman ikuti. Saya takut salah karena mengikutinya tidak sampai tuntas, saya harus menjemput si kecil dari sekolah sebelum pelatihan selesai. 

Juga, pelatihan memandikan cukup sensitif jika dibahas secara detail. Pernah pada saat SMA, saya beserta teman-teman dan guru agama juga praktek kegiatan yang sama. Dan tak jauh dari kami, seorang teman non muslim hampir muntah karena tak tahan mengikuti pelatihan. Semua muslim pasti tahu, kita lahir dalam keadaan suci sebagai bayi tanpa dosa. Dan meninggal pun harus dalam keadaan bersih sehingga kotoran dalam tubuh perlu dikeluarkan. Siapa yang mengeluarkan? Tentu saja orang-orang yang masih hidup yang wajib mengurusnya. Saya maklum, karena beliau tentu tidak terbiasa dengan hal tersebut. Oleh karena itu, seorang pengurus jenazah haruslah orang yang kuat, tidak cengeng dan mampu menjaga amanah.

Beberapa catatan yang saya dapat ketika memandikan jenazah adalah:
1. Ruangan harus tertutup baik kri, kanan maupun atas. 
2. Memakai air dingin dan tidak menggunakan selang. Ustadzah mencontohkan cara menyiramkan air pada jenazah dengan menggunakan gayung dan tidak langsung ke tubuh jenazah, melainkan ke tangan kita yang satunya sehingga air yang turun ke tubuh jenazah pelan dan tidak terlalu keras.
3. Jaga jangan sampai aurat jenazah terbuka dengan cara menutup bagian tubuh dengan kain.

Bulan Ramadhan sudah di depan mata. Bulan ini penuh ampunan dan rahmat Allah SWT, serta keutamaan lainnya. Mari kita jadikan bulan ini untuk menambah ilmu agama kita dan mendekatkan diri pada-Nya. Karena kita tak pernah tahu, kita yang akan memandikan jenazah atau justru sebaliknya, dimandikan sebagai jenazah. Ampuni kami Ya Rabb, hanya kasih sayang-Mu yang menyelamatkan kami.
 


23 comments :

  1. waah... masjidnya kreatif nih mba, ada pelatihan utk jenazah

    ReplyDelete
    Replies
    1. maaf ya mba, kalo mau memandikan jenazah, apakah kita perlu berwudhu dulu atau tidak?

      Delete
    2. Setau saya ngga mba, justru kita yang mewudukan jenazah

      Delete
  2. Nah ini nih, yang harus kita pelajari, kalau orang-orang yang biasa memandikan jenazah dan dipanggil Allah, lalu siapa nanti yang akan memandikan jenazah kita? Ide yang sangat bagus dan patut dicontoh ini, Mak..

    ReplyDelete
  3. Sbnrnya sedih baca ini. Tapi memang perlu, utk persiapan kedepannya kalo ada anggota keluarga yg meninggal trutama yg trdekat dgn kita. Mba, tp kalo mandiin jenazah itu cuma dgn air aja ya? Ga perlu kita sabunin?

    ReplyDelete
    Replies
    1. pake sabun juga mba, dan beberapa bahan alami lain yg saya lupa ..maaf

      Delete
  4. Sepengetahuan air unt memandika jenazah menyiapkan air hangat.

    Tulisan keren, pwnting dan berguna.

    ReplyDelete
  5. Mba Kania, terima aksih infonya. Memang sebaiknya yang memandikan jenasah adalah orang yang 'kuat' ya mba

    ReplyDelete
  6. Saya pengen deh mbak ikutan pelatihan memandikan jenazah juga. pengajian ibu2 kantor sempet ada wacana untuk mengadakan sih. semoga segera terealisasi :)

    ReplyDelete
  7. Saya perlu belajar ulang tentang yang satu ini. Dua tahun lalu pernah belajar kilat di lokasi KKN. Kebetulan salah satu peserta KKN anak jurusan Tarbiyah dan paham mengenai hal ini.

    ReplyDelete
  8. Saya jg pgn belajar, wkt 2 nenek saya meninggal, cmn liat aja...

    ReplyDelete
  9. Kajian ttg ini sekarang sdg tren, dikomplek rumah, di kantor, di mana2. tren yg baik yg bisa membantu qt mengingat mati

    ReplyDelete
  10. Pelatihan seperti ini tidak kalah pentingnya dengan pelatihan kewirausahaan, ya, Mbak. Bahkan, bisa jadi jauh lebih penting. Karena, kalau tidak ada yang bisa dan berani mengurus jenazah, bisa berdosa semua warganya. Benar begitu, Mbak...

    ReplyDelete
  11. penting banget pelatihan kayak gini mba...
    jadi inget alm bapaku guru pelajaran praktik ibadah yang salah satunya praktik memandikan dan membungkus jenazah

    ReplyDelete
  12. Pelatihan Memandikan Janazah emang harus di gembleng pada sanak famili atau para pemuda. karena apa hal tersebut merupakan fardhu yang harus dilakukan ketika ada kifayah.

    ReplyDelete
  13. Kembangkan.... Kembangkan... Kembangkan. Itu perkara Mulia

    ReplyDelete
  14. makasih sudah berbagi mbak nia
    penting ini, buat yang belom pernah atau refresh ingatan g sudah pernah :)

    ReplyDelete
  15. Yang paling baik memang anggota keluarganya sendiri ya Mak yang memandikan jenazah.. Terima kasih sharingnya ya Mak..

    ReplyDelete
  16. Waktu masih di jawa tengah, aku mengelola pengajian ibu-ibu dan pernah mengadakan kursus merawat jenazah.
    Ini sepertinya sepele ya mba, namun penting sekali untuk bisa,
    Ilmunya pasti bermanfaat, jika ada anggota keluarga yang wafat, bisa dirawat sendiri

    ReplyDelete
  17. Benar sekali mbak, pelatihan ini sangat penting sekali karena setiap kita akan menjumpai kematian.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...