Thursday, August 18, 2016

Listrik Pintar Untuk Rumah Kontrakan



Di awal pernikahan, saya mengontrak rumah di daerah Jakarta Selatan. Alhamdulillah, saya dapat lingkungan tetangga yang baik dan ramah-ramah. Keluarga pemilik rumah kontrakan suka mengririm makanan. Bagi saya yang masih belajar berumah tangga dan bertetangga, ini adalah sebuah teladan  bagaimana caranya bertetangga. Saya pun akhirnya belajar dengan melihat contoh dari beliau. Jika punya makanan atau oleh-oleh dari kampung, saya bagi-bagi juga dengan tetangga.

Rumah kontrakan saya itu merupakan satu rumah yang dibagi dua. Bagian depan dihuni tetangga sepasang suami istri dengan 1 anak seperti saya saat itu. Bagian belakang dihuni saya, suami, dan anak pertama yang waktu itu masih batita.

sumber

Tetangga saya sesama ‘kontaktor’ ini juga baik. Kita suka saling sapa kalau ketemu. Saya juga berada di organisasi yang sama dengan sang tetangga. Sedikit masalah timbul ketika kita akan bayar listrik, karena meteran listrik yang kita pakai Cuma satu. Jadi kita tidak tahu pemakaian listrik siapa yang lebih besar. Selama ini, pemilik kontrakan memberi solusi dengan cara membagi dua pembayaran listrik. Jadi, ketika ada tagihan listrik, setengahnya saya yang bayar dan setengahnya lagi tetangga saya tersebut yang bayar. 

Ternyata, diam-diam kami di belakang saling mengeluh. Saya suka mengeluh sama suami, jangan-jangan tetangga yang pemakaian listriknya lebih besar. Tetangga saya juga melakukan hal yang sama. Saya bisa tahu demikian, karena sang tetangga pernah salah SMS. Dia bermaksud SMS sama suaminya, mengeluhkan tentang saya sekeluarga. Eh, ternyata SMSnya nyasar ke saya. Masha Allah. Ini cara Allah SWT membukakan rahasia yang disimpan sang tetangga, sekaligus menasihati saya agar berinstropeksi. Saya pun membalas SMS-nya, saya yang minta maaf duluan jika ada yang salah. Saya juga minta tolong dia kalau saya salah tolong diingatkan dengan cara yang baik, karena itu lebih mudah dan lebih nyaman saya terima.

Saya bersyukur, sekarang saya sudah tidak mengontrak lagi. Saya dan keluarga sudah lepas dari keresahan tentang ‘siapa yang pemakaian listriknya paling besar?’. Saya dan keluarga sekarang mencicil rumah di daerah Tangerang Selatan. Besar kecilnya pemakaian listrik adalah tanggung jawab saya sekeluarga.

Sebenarnya waktu itu saya dan tetangga saya itu sudah mengusulkan untuk membuat meteran lagi sama pemilik kontrakan agar kami mengetahui masing-masing pemakaian listrik kami. Tapi, entahlah kenapa beliau tidak segera melakukannya. 

sumber

Untuk pemilik usaha rumah kontrakan, sebaiknya sih tiap rumah kontrakan punya meteran atau menggunakan listrik pintar, agar tidak terjadi masalah atau perselisihan seperti yang pernah saya alami. Dengan begitu, pemilik kontrakan tidak perlu berusah payah menagih pembayaran karena tanggungjawab pembayaran listrik akan ditanggung penghuni kontrakan dan pemakaian listrik dapat disesuaikan dengan kebutuhan. 

Pada sistem listrik pintar, pelanggan mengeluarkan uang atau biaya lebih dulu untuk membeli energi listrik yang akan dikonsumsinya. Besar energi listrik yang telah dibeli oleh pelanggan dimasukkan ke dalam Meter Prabayar (MPB) yang terpasang dilokasi Pelanggan melalui sistem ‘token’ (pulsa) atau stroom.

Keuntungan menggunakan listrik pintar adalah kita sebagai pelanggan lebih mudah mengendalikan pemakaian listrik. Pemakaian listrik juga dapat disesuaikan dengan anggaran belanja. Kita tidak akan terkena biaya keterlambatan jika telat membayar listrik. Privasi pun akan lebih terjaga karena tidak harus membukakan pintu untuk petugas PLN yang mencatat meteran.

Jaringan yang luas untuk pembelian listrik isi ulang juga merupakan salah stau keuntungan pemakaian listrik pintar. Token listrik bisa dibeli dengan nominal 20 ribu sampai 1 juta di bank-bank yang bekerjasama dengan PLN, berbagai loket pembayaran, atau beli di toko online sekalian belanja bulanan. 

Salah satu toko online yang menyediakan pembelian token listrik yaitu Tokopedia. Beli Token listrik online di Tokopedia  caranya mudah. 

token listrik online di tokopedia

  1. Buka www.tokopedia.com dan login. Kalau belum menjadi member, lakukan registrasi dulu.
  2. Pilih kategori “Token Listrik”
  3. Masukkan nomor meteran atau ID pelanggan.
  4. Pilih nominal token listrik yang ingin dibeli. Pilihannya mulai dari 20,000 sampai 1,000,000.
  5. Pilih metode pembayaran instan. Pilihannya mulai dari Saldo Tokopedia, KlikBCA, BCA Klikpay, Mandiri Clickpay, Mandiri E-Cash, E-Pay BRI dan kartu kredit berlambang Mastercard, Visa, JCB dan Debit Online.
  6. Jika transaksi sukses, maka kode token dan KwH yang kita dapatkan akan tampil seketika. Selain itu kita juga akan mendapatkan kode dan notifikasi melalui e-mail dan SMS. Token Listrik dapat digunakan saat itu juga untuk mengisi ulang pulsa listrik.
Setelah kode token diterima, Kita hanya perlu memasukan 20 angka kode token ke panel meteran listrik yang tersedia. Cek kembali jika sudah benar lalu tekan enter. Jika display meteran menunjukan Accept atau Diterima, berarti KwH akan ditambahkan ke daya yang tersisa. Apabila muncul Reject atau Ditolak berarti kode yang dimasukan salah, silahkan masukan kode kembali dan cek apabila angka kode yang dimasukan telah sesuai dan benar.

Bagaimana dengan teman-teman? Pemakaian listrik di rumah sudah menggunakan listrik pintar atau masih dicatat petugas PLN?


16 comments :

  1. Ga kebayang malunya si tetangga pas salah kirim sms, tapi ada hikmahnya juga ya Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas, betul, ada hikmahnya. ngga selamanya orang lain yang salah pasti ada andil kita di dalam suatu persoalan

      Delete
  2. Untuk rumah kontrakan memang lebih baik menggunakan token Mbak. Temen saya ngontrakin rumahnya.Eh si pengontrak kabur dengan meninggalkan tagihan listrik 3 juta lebih. Terpksa teman saya yang bayar. Sekarang meterannya diganti dengan yg listrik pintar seperti ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya Alloh, itu uang yg beesar sekali mba :(

      Delete
  3. di kosan saya juga pakai token Mba Kania dan masing-masing kamar punya meteran sendiri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. tiap orang lebih bertanggungjawwab terhadap pemakaian listriknya ya mba :)

      Delete
  4. memang menggunakan listrik prabayar kayak gini menghemat penggunaan listrik mba...kyk pulsa prabayar aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi eman-eman pake listrik ya mba soalnya sudah bayar duluan

      Delete
  5. Lebih baik ya mba kalau kontrakan dibuat pulsa aja. Usaha kontrakan yg dari jaman dulu, sekarang jadi gunain pulsa listrik :)

    ReplyDelete
  6. Waah, jadi nggak enak ya kalo saling berprasangka gitu, mending emang pakai token listrik sih :)

    ReplyDelete
  7. Saya pakai cara dicatat petugas PLN, mba Kania.
    Karena masih ngontrak, jadi gak kepikir buat ganti-ganti.

    Kebayang kaya isi pulsa HP yaa, mba...
    *masih awam banget.

    Haturnuhun infonya, mba...
    Bermanfaat sekali.

    ReplyDelete
  8. Saya jg pakai listrik prabayar, wah beli pulsanya bs lewat toped jg yah

    ReplyDelete
  9. saya sih baru tahu mbak kalau bisa bayar token di toped juga

    ReplyDelete
  10. Saya juga pernah ngalami mbak hidup satu rumah dengan keluarga lain, dan rekening listrik selalu jadi masalah sama persis dengan cerita ini..... Dan memang tinggal di rumah sendiri lebih nyaman ya mba....

    ReplyDelete
  11. ini listrik prabayar ya?
    kalau share listrik, kadang suka njeglek..kalau nyetrika dan masak nasi bersamaan

    ReplyDelete
  12. Wah baru tahu aku, beli token bisa di toped mba.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...