Wednesday, December 17, 2014

Air Hujan Membanjiri Rumah 3 Kali Dalam Setahun

Hujan. Saya sempat trauma dengan kata ini. Bagaimana tidak, ia telah membuat rumah saya kebanjiran tiga kali di tahun 2014 ini. Pertama,  di bulan Januari. Hujan besar datang tiada henti menimbulkan keributan di atap rumah. Tak hanya itu, ia menerobos masuk lewat atap yang bolong karena terus menerus didesak air hujan. Lubang-lubang kecil di lantai juga mengeluarkan bunyi “blup blup blup”, tanda air mulai masuk. Lubang pengeluaran air di kamar mandi tak kuasa lagi menahan air yang merangsek masuk. Diserang air dari berbagai arah, rumah saya pun sukses menjadi kolam air alias banjir.

Yang kedua, saya lupa bulan apa. Yang saya ingat, sore itu saya menanti suami pulang kerja dengan harap-harap cemas. Hujan belum juga berhenti, sementara air sudah masuk ke dalam rumah setinggi betis. Begitu sosoknya muncul di depan pagar sambil menenteng sepatu, saya langsung lega. Dalam kondisi seperti ini, keadaan apapun siap dihadapi asal ada teman seperjuangan. 

Kami langsung membawa tas berisi pakaian dan bermaksud mengungsi ke rumah kakak di blok lain, karena mendengar berita bahwa air akan terus naik. Di jalanan, air sudah setinggi paha, lama-lama sepinggang. Suami menggendong anak pertama, saya menggendong anak kedua. Kami berjalan pelan menembus banjir. Hujan masih turun berupa rintik-rintik. Ternyata, jalan menuju rumah kakak lebih parah, banjirnya sampai setinggi dada. Akhirnya dengan pakaian basah, kami mengungsi di masjid. Suami pulang lagi untuk mengambil makanan. Kami belum makan malam.

Semakin malam, hujan mulai menipis. Air mulai surut. Orang-orang mulai pulang ke rumahnya untuk bersih-bersih. Di depan masjid, kami melihat suami kakak kami sedang menunggu air surut. Setelah jalanan kira-kira bisa dilewati, kami diajaknya menginap di rumahnya. Kakak kami sendiri masih terjebak di jalan karena jalanan macet akibat banjir ini. Esoknya baru kami pulang ke rumah dan bersih-bersih.

Yang ketiga, banjir terjadi di bulan Ramadhan. Sama seperti sebelum-sebelumnya. Hujan turun dengan deras dan lama. Tanah tak mampu menahan hujan dan masuk ke rumah. Beberapa jam kemudian surut, dan kami membersihkan rumah. Air hanya mampir seperti tamu, namun tak diundang.

Hujan. Bukan salahnya yang membuat rumah saya banjir. Mungkin karena ulah manusia sendiri yang suka membuang sampah sembarangan. Di komplek rumah, pernah loh ada orang yang membuang banyak pakaian bekas ke sungai. Untung ada yang mencegah. Di daerah saya di pinggir kota ini merupakan daerah yang diincar pengembang untuk membuat rumah-rumah. Lahan hijau banyak yang sudah beralih menjadi perumahan. Mungkin mereka lalai membuat sistem pembuangan air yang baik agar tak terjadi banjir. Terlebih komplek rumah saya terletak tak jauh dari sungai dan lokasi lebih rendah dari rumah penduduk lain.

Hujan,  diturunkan Tuhan dengan berbagai hikmah, diantaranya:

  • Rahmat Allah untuk seluruh makhluk (QS As Syuura: 28)
  • Rizki bagi seluruh makhluk (QS Adz Zaariyat: 22)
  • Pertolongan untuk wali-wali Allah (QS Al Anfal: 11)
  • Alat bersuci hamba-hamba Allah (QS Al Anfal: 11)
  • Pemisalan akan kekuasaan Allah menghidupkan kembali makhluk kelak pada hari kiamat (QS al a’rof: 57)
  • Azab bagi para pelaku maksiat (QS Al Ahqof: 24-25)
Sekarang, jika hujan cukup deras datang, saya baca doa turun hujan, “Allahumma Sayyiban naafia, Ya Allah turunkan hujan yang bermanfaat.” Saya baca doa sebanyak-banyaknya, karena salah satu doa yang mustajab adalah doa yang diucapkan saat turun hujan. Saya angkat barang-barang yang bisa diangkat ke atas. Walaupun harta adalah titipan Tuhan, bisa dicari lagi, dan tidak dibawa mati, namun manusia juga perlu berikhtiar kan. Selanjutnya, setelah ikhtiar dan doa dijalani, tinggal memasrahkan segalanya pada pemilik hujan, Allah SWT.



Sumber referensi: https://id-id.facebook.com/notes/ahsantv-indonesia/hikmah-diturunkannya-hujan/293519317330779


20 comments :

  1. Saya pernah juga mengalami kebanjiran pada waktu masih tinggal di Tj Priuk, bukan hanya 4 kali setahun tapi tiap bulan purnama....

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah rumahku gk prnh kebanjiran (jngn sampai juga).

    Mungkin harus dipersiapkan juga rumahnya mbak ketika musim hujan tiba. Agar tdk terulang lg banjirnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang ditinggikan terasnya dan lubang2 ada penjaganya:)

      Delete
  3. Tempatku tiap musim hujan pasti banjir, untunglah rumaku tinggi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah itu pa, blm ada dana kalu ditinggiin semua rumah, baru teras aja :)

      Delete
  4. kalau rumahnya sering kebanjiran, berarti harus hati-hati nyimpan dokumen ya, mbak. Jangan sampai rusak. Ej,jadi kepo. tempat tidurnya pernah kelewat sama banjir, ga, sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah dokumen2 selmaat mba karena ditaruh di lemari paling atas :) kalo kasur pernah sih kecipratan aja pas lagi dijemur abis banjir, sama anakku dicipratin air lagi katanya mau dibersihin huhu

      Delete
  5. Kasian rumahnya terkena musibah banjir, semoga cepat surut banjirnya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiiin...sekarang sih nggak..itu beberapa bulan lalu

      Delete
  6. semoga ada hikmahnya mbak di setiap kejadiannya :)

    ReplyDelete
  7. wahhh.... kata orang kalau rumah sudah kebanjiran sekali itu tanda-tanda selamanya daerah situ bakalan kebanjiran terus selamanya mak. Jadi, akhirnya ada dua opsi deh, ditinggikan atau pindah. duh.... hati2 listrik dan dokumen ya mak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba ade akhirnya ditinggiin tp blm semua...listrik yg di bawah jg dipindahin k atas.

      Delete
  8. banjir juga sudah menjadi langganan di rumah ibu mertua saya mak... :)

    ReplyDelete
  9. Mak tinggal di daerah mana tho? kok banjir sampe 3x, jekardah ya? alahamdulillah saya jangan sampe kena hujan deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak jangan sampai..saya di bintaro tangerabg selatan

      Delete
  10. wah Mbak, bisa ngebayangin repootnya saat banjir ya. Jadi ikut prihatin. Hujan memangtidak bisa disalahkan, manusialah yang membuat alam jadi tidak seimbang. ditempat saya, lahan-lahan subur sudah jadi perumahan semuanya. miris. mbak punya halaman? coba buat lubang resapan. mungkin bisa membantu mengurangi dampak bajir, apalagi bila dilakukan secara kelompok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak..sudah lama ingin bikin lubang resapan..cari tukang yg paham..

      Delete

Terimakasih sudah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...